Masukkan diskaun kod SAYABELI untuk pembelian melebihi RM80 dan nikmati lebih penjimatan!
Cart 0
kematian sebuah bangsa.jpg

Kematian Sebuah Bangsa

RM 30.00

Tuhan akan menghancurkan sebuah bangsa dengan cara mencabut nyawa para ulama. Ulama, ketika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia berarti para ahli ilmu atau cendikiawan atau orang-orang berilmu yang peduli dengan ilmu pengetahuan. Ketika mereka 'dimatikan', yang tersisa tinggal manusia-manusia bodoh yang berkubang dalam kegelapan. Tertatih-tatih tak tentu arah tujuan, tak ada penuntun, tak ada pembimbing, tak ada penasihat, tak ada cahaya. Lama kelamaan mereka lupa dengan yang namanya terang, kegelapan itulah yang disebut mereka terang. Mereka berlomba-lomba dalam kebodohan. Orang-orang bodoh menjadi panutan dan fatwa-fatwa dan hukum-hukum dan teori teori mereka yang salah kaprah menjadi pegangan hidup. Ketika hal itu terjadi tunggu saja kehancurannya... 'Dimatikan' atau dicabut nyawa, mempunyai sangat banyak arti. Ketika kaum cendikiawan itu jatuh kedalam materialisme, ketika ahli ilmu tidak lagi dihargai keilmuannya, oleh pemerintah ataupun masyarakat, Ketika kaum berpendidikan yang tidak lagi peduli dengan pendidikan generasi penerus, mereka telah 'tercabut nyawanya', mereka telah 'mati', walaupun jasad mereka masih hidup. Mereka berbalik berubah menjadi Iblis-iblis yang dengan 'kesaktian' ilmu pengetahuannya memporak porandakan tatanan kesucian masyarakat. Materialisme menjadi tujuan pokok kehidupan. Kekayaan dan kemewahan menjadi tolak ukur keberhasilan walau didapat dengan kecurangan keserakahan, kerakusan dan kebodohan. Masyarakat berlomba-lomba menempuh pendidikan untuk mendapatkan kekayaan, hingga hilanglah keilmuan pendidikan itu. Masyarakat menempuh pendidikan untuk mendapatkan gelar, hingga matilah sudah ilmu pengetahuan. Dunia pendidikan menjadi ajang bisnis yang tak terelakkan lagi. Daya pikir masyarakat menjadi cetek, dan kemelaratan lahir bathin merajalela di mana-mana. Tunggu saja kehancurannya... Ketika seorang benar-benar berilmu pengetahuan dan cinta akan ilmu pengetahuan dan peduli akan pendidikan di masyarakat, namun tidak lagi di hargai oleh masyarakat, berarti tuhan telah telah mencabut nyawa ahli ilmu itu, yang berarti juga sebuah bangsa di ambang kehancurannya. Adakah terjadi itu di negara ini? Kebodohan sudah bersimaharajalela lewat program-program televisi, kesenian-kesenian yang tak berbudaya, lewat kurikulum pendidikan yang carut marut. Dimana suara ahli ilmu itu? suara ahli ilmu yang peduli dengan kemajuan generasi penerus, suara cendikiawan yang peduli dengan bangsa, suara kaum berpendidikan yang peduli dengan kemurnian ilmu pengetahuan. Dimana suara-suara mereka? Mengapa pembodohan di masyarakat masih saja terus berlangsung? mengapa korupsi, keserakahan, kecurangan masih saja terus terjadi. Mengapa suara-suara para ahli ilmu itu bungkam, malah yag terdengar suara-suara para cendikiawan palsu yang berfatwa, berteori dan berhukum hanya atas dasar suatu kepentingan kekuasaan. Apakah mereka telah terjatuh dalam materialisme? apakah mereka sudah tidak ada kepedulian lagi terhadap keadaan masyarakat dan generasi penerus? apakah pemerintah sudah tidak lagi menghargai keberadaan mereka? atau, malah kita sendiri yang tidak lagi menghargai keberadaan mereka? Kalau memang itu yang terjadi, tunggu saja...

Customer comments

Author/Date Rating Comment